|
Joint Press Statement
Muslim men object to the passing of the Islamic Family
Law Bill 2005
3 January 2006 (updated 16 January 2006)
Kumpulan
lelaki Islam membantah pelulusan Rang Undang-Undang Keluarga Islam 2005
We
are a group of Muslim men deeply concerned at the recent passing of
the Islamic Family Law (Federal Territories) (Amendment) Bill 2005 by
the Senate, despite vehement objections from at least 12 women senators,
women's groups, civil society groups and ordinary citizens from all
walks of life.
Even
though we welcome the Cabinet's decision to put on hold the gazetting
of this Bill, we are still concerned that this decision only affects
the Federal Territories, and not the 11 states that have adopted the
amendments into their respective Islamic family laws. The upshot of
this is that Muslim women in these states are still living under these
unjust provisions in the respective Islamic family laws
As Muslim
men - some of us married and some of us not - we believe that marriage
in Islam is based on principles of justice, respect, equality and kindness.
Thus, when there are clauses in the Bill that make it easier for men
to, among other things, practice polygamy and institute divorce, we
feel that it is completely justified that there are several objections
to it and that several individuals are extremely hurt. After all, as
many Muslim men and women can attest to, there are several women who
are now already suffering greatly due to highly selective application
of Islamic family laws that are already stacked against women.
Our belief in Islam is premised on the fact that Islam promises and
enshrines gender equality and respect for universal human dignity and
rights, as mentioned explicitly in the Holy Qur'an, Surah Al Ahzab,
Verse 35:
For
Muslim men and women, - for believing men and women, for devout men
and women, for true men and women, for men and women who are patient
and constant, for men and women who humble themselves, for men and
women who give in charity, for men and women who fast (and deny themselves),
for men and women who guard their chastity, and for men and women
who engage much in God's praise,- for them has God prepared forgiveness
and great reward.
Hence,
in light of the issues that have been brought up with this Bill, we
believe that these sensitive Islamic principles have been severely compromised.
We thus call on:
- The
government to ensure that the Bill is not gazetted in the Federal
Territory, and to place a moratorium on the implementation of this
Bill in states that have adopted these amendments;
- The
current Islamic Family Laws to be replaced with a new Muslim Family
Law that is based on the principles of justice and equality;
- The
drafting of this new Muslim Family Law, including any amendments that
are made to laws that affect women, to be done in consultation with
women's groups;
- The
government to establish a Parliamentary Select Committee to hold public
hearings throughout the country, so that the voices of ordinary citizens
can be heard and reflected in a law that governs their personal lives;
- The
media to continue to provide a space that allows the public to air
their concerns on this issue in a fair and balanced manner; and
- Our
fellow citizens of all faiths and all walks of life to speak up and
come up with a more just solution to this issue.
We stress
that as Muslim men, we do not want to reap the apparent benefits of
a system that perpetuates itself by perpetrating injustice towards women.
Such a system means that, as men, we then derive such privileges merely
on the basis of our gender. We object to this because it is blatantly
unjust. In a just society, men and women will enjoy relations that are
based on mutual respect, equality and justice.
Sincerely,
Muslim Men for Gender Equality
Consisting
of:
- Aaren
Azhar, student
- Abd.
Azharyl bin Abd Rahman, production/audio lighting designer, 23 years
old
- Adi
Irwan bin Aziz, cameraman, 29 years old
- Afif
Izmier Ahmad, student, Perak, 19 years old
- Amar
Ihsan Ahmad, student, Perak. 18 years old
- Aminullah
Ali, trader, Terengganu, 35 years old
- Amni
Amry, born Muslim, 35 years old, loving husband of 2 years, "'NO!'
to a Bill that doesn't capture Islam's spirit of fairness!"
- Awangku
Irawan b. Awang Mohd Umar Ali, 24 years old, jobless
- Danial
bin Abdul Rahman, law student, Muslimin khalifah of the future, concerned
with the present
- Danial
Ma, researcher
- Dzulkifly
Aminuddin, husband and father of two
- Farid
Howladar, global Muslim
- Hamdan
bin Harun, assistant director, 37 years old
- Hazri
bin Haili, concerned IPTA student, son, nephew and grandson
- Hirwan
Zubir, Business Development Manager
- Husri
Hj Husain, director, 35 years old, "We can't live without women!"
- Johan
Imran, Manager
- Khairul
Abiddin bin Rehan, 32 years old, looking for a job and for love
- Mirzan
Mahathir, businessman
- Mohammed
Reza bin Sallehuddin, son
- Mohd
Azmyl bin Md Yusof, lecturer
- Mohd
Faisal Shah, Student, Selangor, 18 years old
- Mohd
Fariz Kamaruddin, engineer & future husband
- Mustafa
Abdullah Sharp, husband
- Nik
Badli Shah Nik Abdullah, retired government officer
- Nik
M. Fahmee, father of two (indeed)
- Rozali
bin Ahmad, medical professional, husband, father
- Shanon
Shah bin Mohd. Sidik, writer/musician
- Surain
Azhar, self employed
- Yusof
bin A. Aziz, retiree
- Marhalem
Mansor, future husband
- Din
Merican, Muslim male
- Fathi
Aris Omar, columnist, 38 years old
- Umran
Kadir, saying "Tak Nak" to bad policies!
- Syed
Munif Alwi bin Syed Mahmood Jamalullail, husband, father of a son
and a daughter
- Mustafa
K Anuar, a concerned Muslim
- Nik
Ahmad Faris, financial consultant
- Ziad
Haider, researcher
- Noor
Effendy Ibrahim, Singapore
- Ifraz
Mughal, British Muslim
Kenyataan Akhbar Bersama
Kumpulan
lelaki Islam membantah pelulusan Rang Undang-Undang
Keluarga Islam 2005
3 Januari 2006 (updated 16 Januari 2006)
Kami merupakan sekumpulan lelaki beragama Islam yang amat terkilan dengan
pelulusan Rang Undang-Undang Keluarga Islam (Wilayah Persekutuan) (Pindaan)
2005 oleh Dewan Negara baru-baru ini, walaupun dibantah dengan keras
olah sekurang-kurangnya 12 senator wanita, pelbagai pertubuhan wanita,
kumpulan masyarakat umum dan rakyat awam yang berbilang kaum dan agama.
Walaupun kami mengalu-alukan keputusan jemaah Kabinet baru-baru ini
untuk menggantungkan pelaksanaan Rang Undang-Undang ini, namun kami
tetap bimbang bahawa keputusan ini hanya akan membawa kesan di Wilayah
Persekutuan. Maksudnya, peruntukan-peruntukan yang dibantah oleh rakyat
umum masih berkuatkuasa di 11 negeri yang telahpun meluluskannya, dan
masih memberi kesan buruk terhadap wanita yang bermastautin di negeri-negeri
tersebut.
Sebagai kaum lelaki yang beragama Islam, ada di kalangan kami yang sudah
berumahtangga dan ada yang belum berumahtangga. Apa pun, kami percaya
bahawa perkahwinan dalam Islam adalah berdasarkan prinsip keadilan,
saling menghormati, kesetaraan dan kasih sayang. Oleh itu, apabila terdapat
peruntukan dalam Rang Undang-Undang ini yang memudahkan lelaki untuk
mengamalkan poligami dan memperbesarkan kuasa di tangan lelaki untuk
menceraikan isteri mereka, kami amat memahami kenapa beberapa individu
membantahnya dan merasa teraniaya. Lagipun, seperti yang jelas diketahui,
ramai wanita yang amat menderita akibat daripada pelaksanaan Undang-Undang
Keluarga Islam yang sudah mempunyai peruntukan yang mendiskriminasi
terhadap wanita.
Sebagai orang yang beriman terhadap Allah s.w.t., kami percaya bahawa
Islam menjamin kesetaraan, hak dan maruah umat manusia secara keseluruhannya,
baik lelaki atau wanita, seperti yang difirmankan oleh Allah s.w.t.
dalam Surah Al-Ahzaab, Ayat 35, maksudnya:
Sesungguhnya
orang-orang lelaki yang Islam serta orang-orang perempuan yang Islam,
dan orang-orang lelaki yang beriman serta orang-orang perempuan yang
beriman, dan orang-orang lelaki yang taat serta orang-orang perempuan
yang taat, dan orang-orang lelaki yang benar serta orang-orang perempuan
yang benar, dan orang-orang lelaki yang sabar serta orang-orang perempuan
yang sabar, dan orang-orang lelaki yang merendah diri (kepada Allah)
serta orang-orang perempuan yang merendah diri (kepada Allah), dan
orang-orang lelaki yang bersedekah serta orang-orang perempuan yang
bersedekah, dan orang-orang lelaki yang berpuasa serta orang-orang
perempuan yang berpuasa, dan orang-orang lelaki yang memelihara kehormatannya,
dan orang-orang perempuan yang memelihara kehormatannya, dan orang-orang
lelaki yang menyebut nama Allah banyak-banyak serta orang-orang perempuan
yang menyebut nama Allah banyak-banyak, - Allah telah menyediakan
bagi mereka semuanya keampunan dan pahala yang besar.
Oleh
itu, memandangkan isu-isu yang telah diketengahkan berkenaan dengan
Rang Undang-Undang ini, kami percaya bahawa prinsip-prinsip Islam yang
penuh prihatin telah tergugat. Maka kami mendesak supaya:
- Pihak
kerajaan menjamin agar Rang Undang-Undang ini tidak diwartakan pada
peringkat Wilayah Persekutuan, dan menggantung pelaksanaannya di negeri-negeri
yang sudah meluluskannya;
- Undang-Undang
Keluarga Islam yang sedia ada digantikan dengan satu Rang Undang-Undang
Keluarga Islam yang baru yang berdasarkan prinsip keadilan dan kesaksamaan;
- Pihak
kerajaan mengadakan rundingan dengan persatuan-persatuan wanita berhubung
dengan penggubalan undang-undang baru ini, serta merujuk kepada mereka
sebelum sebarang pindaan dibuat kepada undang-undang yang berkaitan
dengan wanita;
- Pihak
kerajaan menubuhkan Jawatankuasa Khas Parlimen untuk mendapat timbalbalas
secara terbuka dari rakyat di seluruh negara untuk memastikan pandangan
dicerminkan di dalam sebarang penggubalan undang-undang yang akan
mempengaruhi kehidupan seharian mereka;
- Pihak
media menjaminkan ruang untuk perbincangan dan perdebatan di kalangan
orang awam dengan cara yang adil dan sama rata; dan
- Rakyat
awam sama-sama mengetengahkan penyelesaian yang lebih adil dan saksama
tentang isu ini.
Kami
ingin menekankan bahawa sebagai lelaki yang beragama Islam, kami tidak
mahu mengaut keuntungan daripada sistem yang mencabul hak dan maruah
kaum wanita. Kami tidak mahu memperolehi layanan istimewa ini hanya
kerana kami berjantina lelaki. Kami membantah hakikat ini kerana ia
sama sekali tidak adil dan tidak sejajar dengan ajaran Islam. Dalam
masyarakat yang adil, lelaki dan wanita akan menikmati perhubungan yang
berdasarkan kepada prinsip saling menghormati, kesetaraan dan keadilan.
Kumpulan Lelaki Muslim Menegakkan Kesaksamaan
Yang terdiri daripada:
- Aaren
Azhar, pelajar
- Abd.
Azharyl bin Abd Rahman, penata audio/lampu produksi, 23 tahun
- Adi
Irwan bin Aziz, jurukamera, 29 tahun
- Afif
Izmier Ahmad, 19 tahun, pelajar, Perak
- Amar
Ihsan Ahmad, 18 tahun, pelajar, Perak
- Aminullah
Ali, 35 tahun, peniaga, Terengganu
- Amni
Amry, Muslim sejak lahir, 35 tahun, sudah 2 tahun sebagai suami penyayang,
"'TIDAK!' kepada Rang Undang-Undang yang tidak sejalan dengan
prinsip keadilan dalam Islam!"
- Awangku
Irawan b. Awang Mohd Umar Ali, 24 tahun, menganggur
- Danial
bin Abdul Rahman, pelajar bidang undang-undang, khalifah Muslim untuk
masa depan, prihatin tentang masa kini
- Danial
Ma, penyelidik
- Dzulkifly
Aminuddin, suami dan bapa kepada dua cahaya mata
- Farid
Howladar, Muslim global
- Hamdan
bin Harun, pembantu pengarah, 37 tahun
- Hazri
bin Haili, penuntut IPTA, anak, anak saudara dan cucu yang prihatin
- Hirwan
Zubir, pengurus pembangunan perniagaan
- Husri
Hj Husain, pengarah, 35 tahun, "Tak boleh hidup tanpa wanita!"
- Johan
Imran, pengurus
- Khairul
Abiddin bin Rehan, 32 tahun, mencari kerja dan jodoh
- Mirzan
Mahathir, ahli perniagaan
- Mohammed
Reza bin Sallehuddin, anak
- Mohd
Azmyl bin Md Yusof, pensyarah
- Mohd
Faisal Shah, 18 tahun, pelajar, Selangor
- Mohd
Fariz Kamaruddin, jurutera & bakal suami
- Mustafa
Abdullah Sharp, suami
- Nik
Badli Shah Nik Abdullah, pesara perkhidmatan awam
- Nik
M. Fahmee, bapa kepada dua cahaya mata
- Rozali
bin Ahmad, profesional perubatan, suami, bapa
- Shanon
Shah bin Mohd. Sidik, penulis/artis
- Surain
Azhar, bekerja sendiri
- Yusof
bin A. Aziz, pesara
- Marhalem
Mansor, bakal suami
- Din
Merican, lelaki Muslim
- Fathi
Aris Omar, kolumnis, 38 tahun
- Umran
Kadir, berkata "Tak Nak" kepada polisi yang buruk!
- Syed
Munif Alwi bin Syed Mahmood Jamalullail, suami, bapa kepada seorang
puteri Islam dan seorang putera Islam
- Mustafa
K Anuar, Muslimin prihatin
- Nik
Ahmad Faris, perundingcara kewangan
- Ziad
Haider, penyelidik
- Noor
Effendy Ibrahim, Singapura
- Ifraz
Mughal, Muslim British
Related
Articles:
|